Dalam sebuah riwayat disebutkan, Imam Abu Hanifah dalam hidupnya mampu mengkhatamkan Alquran sebanyak enam ribu kali.
Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia.
Padanya diturunkan Alquran. Karena itu, Ramadhan disebut pula dengan
bulannya Alquran (Syahrul Qur’an). Momentum Ramadhan hendaknya menjadi
kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk
membaca dan mengamalkan Alquran.
“Puasa dan Alquran akan memberikan syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata, ”Wahai
Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat, maka
perkenankanlah aku memberikan syafaat kepadanya.” Sedangkan Alquran
berkata, ”Aku telah mencegahnya dari tidur malam, maka perkenankanlah
aku memberikan syafaat kepadanya.” (HR Ahmad dan Al-Hakim).
Hadis di atas menjelaskan kepada kita
bahwa shaum (puasa) dan Alquran dapat memberikan syafaat. Puasa
memberikan syafaat karena dapat membendung syahwat seorang hamba,
sedangkan Alquran memberikan syafaat karena ia telah mencegah seorang
hamba dari tidur malam untuk bercengkrama dengannya.
Ramadhan seakan menjadi tempat untuk
keduanya. Diwajibkan puasa satu bulan penuh sebagai madrasah untuk
memperbaiki diri setelah sebelas bulan disibukkan oleh rutinitas dunia.
Alquran adalah bacaan yang menjadi teman
setia bagi orang-orang beriman di saat-saat menjalankan ibadah puasa.
Karenanya, Ramadhan adalah Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Alquran
untuk pertama kali.
Jika melihat sejarah salafus saleh dalam
berinteraksi dengan Alquran, akan didapati bahwa kita sangat jauh
dibandingkan dengan mereka. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Imam Abu
Hanifah dalam hidupnya mampu mengkhatamkan Alquran sebanyak enam ribu
kali.
Umar ibn Khathab mampu mengkhatamkan Alquran pada setiap malam, sampai-sampai putra beliau yang bernama Abdullah berkata, “Ayahkulah
yang menjadi sebab turunnya ayat Allah. Ataukah orang yang beribadah di
waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada
(azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar [39]: 9).
Usman ibn Affan mampu mengkhatamkan
Alquran setiap harinya. Imam Syafii mengkhatamkan Alquran selama
Ramadhan sebanyak enam puluh kali. Imam Qatadah mengkhatamkan Alquran
setiap tujuh malam pada hari biasa dan setiap tiga malam pada bulan
Ramadhan, sedangkan pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan beliau
mengkhatamkan Alquran setiap malam. Imam Ahmad mengkhatamkan Alquran
setiap pekannya.
Itulah gambaran hidup para salafus saleh
yang hari-harinya tidak pernah lepas dari Alquran. Semoga kita mampu
mencontoh apa yang telah mereka lakukan, yakni dengan menjadikan
Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an. “Sebaik-baiknya orang di antara kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari). “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk itu.” (QS Al-An’am [6]: 90).