Ramadhan sering datang dengan tiba-tiba, dan berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ia adalah momentum termahal yang pernah kita punya untuk mendulang pahala …
Ramadhan yang dirindukan telah
menjelang. Setiap kita mempunyai beragam cara untuk menyambutnya. Musim
kebaikan tahunan ini memang tak layak untuk dilewatkan begitu saja.
Bahkan Rasulullah SAW sejak awal mengadakan briefing penyambutan
Ramadhan di tengah-tengah para sahabat. Dari Abu Hurairah ra,
Rasulullah SAW bersabda : “ Sungguh telah datang padamu sebuah bulan
yang penuh berkah dimana diwajibkan atasmu puasa di dalamnya, (bulan)
dibukanya pintu-pintu surga, dan ditutupnya pintu-pintu neraka jahannam,
dan dibelenggunya syaitan-syaitan, Di dalamnya ada sebuah malam yang
lebih mulia dari seribu bulan. Barang siapa diharamkan dari kebaikannya,
maka telah diharamkan (seluruhnya) “(HR Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi)
Ramadhan sering datang dengan tiba-tiba,
dan berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ia adalah momentum termahal yang
pernah kita punya untuk mendulang pahala. Ini mirip bulan promosi dan
besar-besaran yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Kebaikan
nilai pahalanya menjadi berlipat-lipat, semua orang berburu
memborongnya. Saya sering mengibaratkan Romadhon itu : Bagaikan kita
mendapat ‘hadiah’ di sebuah pusat perbelanjaan. Kita diberi kesempatan
untuk mengambil semua barang belanja di dalamnya, namun hanya dalam
waktu beberapa saat saja ! Allah SWT menggambarkannya dalam Al-Qur’an :
” (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu” ( QS Al-Baqarah 184)
Semua kita, jika diberi kesempatan
‘gratisan’ semacam itu, pasti segera meloncat lalu berlari menuju
rak-rak belanjaan untuk segera mengambil barang-barang, dari yang
termahal hingga termurah. Nyaris tanpa henti hingga waktunya selesai.
Lelah berkeringat bukan masalah. Apa yang dalam pikiran kita adalah ini
kesempatan berharga.. Sekali lengah atau berhenti bisa berarti kerugian
yang tak terbayangkan. Apa makna dari gambaran di atas ? Satu arti yang
harus kita pahami dan kita catat dengan baik adalah ; bahwa Ramadhan
memang benar-benar berbeda. Perlu interaksi, konsentrasi dan energi yang
berbeda pula dalam menyikapinya. Jangan sekali-sekali menyamakan
Ramadhan dengan sebelas bulan yang lainnya. Berbeda dan sungguh berbeda,
bahkan mulai dari cara kita menyambutnya. Yang menyamakan siap-siap
saja gulung tikar di hari-hari pertama.
Salah satu cara kita menyambutnya adalah
dengan memahami Hikmah Ramadhan. Kita bisa sesibuk apapun dalam bulan
Ramadhan, tapi tanpa menyelami hikmahnya, barangkali yang tersisa saat
Syawal menjelang hanyalah kelelahan fisik yang tak terkira. Saat musim
mudik usai, mungkin hanya suara parau sisa kebut-kebutan tilawah yang
bersisa. Namun sebaliknya, dengan mengetahui sejuta hikmah dalam
Ramadhan, maka kita akan menikmati amal-amal ibadah dalam Ramadhan
dengan penuh penghayatan dan kekhusyukan. Kita menjalani paket ibadah
Ramadhan lengkap dengan lebih ringan karena memahami manfaatnya buat
kita. Dan lebih hebat lagi, setelah Ramadhan usai pun kita masih bisa
merasakan hikmahnya dalam menjalani hari-hari selanjutnya.
Mari sejenak mengambil ibarat : seorang
yang minum obat-obatan dan seorang yang minum madu atau multivitamin.
Yang minum obat-obatan, biasanya sekedar ‘menggugurkan’ kewajiban agar
terbebas dari rasa sakitnya. Ia sendiri tak pernah paham khasiat apa
yang terkandung dalam obat tersebut. Yang jelas dokter mewajibkannya
meminum obat tersebut secara rutin tiga kali sehari. Maka ia meminumnya
dengan setengah hati dan terbebani. Lain lagi dengan seorang yang minum
madu atau multivitamin yang sejenis. Ia tahu persis khasiat yang
terkandung di dalamnya, sebagaimana ia juga meyakini manfaat besar yang
akan ia dapatkan ketika meminumnya. Maka ia meminumnya dengan begitu
ringan dan bersemangat. Contoh kedua inilah yang ingin kita praktekkan
dalam hari-hari Ramadhan kita. Kita memahami hikmah dan ‘khasiat’
ramadhan bagi diri kita, lalu menikmati dan menjalani semua amal dan
aktifitas di dalamnya dengan penuh semangat, gairah dan vitalitas !! (
ups .. mirip iklan jadinya).
Saya meyakini ada sejuta hikmah dalam
Ramadhan yang mulia ini. Mari kita intip tiga di antaranya sebagai
penyemangat awal sekaligus oleh-oleh Ramadhan saat telah usai nanti :
Pertama : Ramadhan sebagai Training Keikhlasan
Puasa adalah ibadah yang melatih keikhlasan. Maka puasa Ramadhan selama sebulan adalah training keikhlasan yang sangat efektif. Sejak awal Rasulullah SAW menjelaskan betapa ibadah puasa benar-benar jalur langsung antara seorang dengan Tuhannya. Puasa menjadi ibadah yang begitu mulia karena langsung dinilai oleh Allah sang Maha Mulia. Beliau meriwayatkan firman Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi : “ Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali Puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya “ ( HR Ahmad dan Muslim).
Puasa adalah ibadah yang melatih keikhlasan. Maka puasa Ramadhan selama sebulan adalah training keikhlasan yang sangat efektif. Sejak awal Rasulullah SAW menjelaskan betapa ibadah puasa benar-benar jalur langsung antara seorang dengan Tuhannya. Puasa menjadi ibadah yang begitu mulia karena langsung dinilai oleh Allah sang Maha Mulia. Beliau meriwayatkan firman Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi : “ Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali Puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya “ ( HR Ahmad dan Muslim).
Ibadah Puasa melatih kita untuk ikhlas
dalam arti yang paling sederhana, yaitu : beramal hanya karena Allah
SWT, mengharap pahala dan keridhoan-Nya. Betapa tidak ? Hampir semua
ibadah bisa dideteksi dengan mudah oleh semua manusia, kecuali puasa.
Orang menjalankan sholat dan zakat bisa dengan mudah terlihat dengan
mata telanjang. Apalagi ibadah haji, rasa-rasanya satu kampung pun bisa
mengetahui kalau salah satu kita menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan
puasa, yang hampir-hampir tidak bisa diketahui oleh orang lain karena
kita ‘sekedar’ menahan tidak makan minum dan berhubungan badan.
Artinya, dalam puasa kita dipaksa untuk
‘ikhlas’ menjalani itu semua hanya karena Allah SWT. Sekiranya bukan
karena ikhlas, akan sangat mudah bagi seseorang untuk mengelabui
keluarga atau teman-temannya. Ia bisa ikut sahur dan juga berbuka
bersama keluarga, tapi di siang hari mungkin saja menyantap lahan
makanan di warung langganannya. Kita semua juga bisa berakting puasa
dengan mudah, tapi lihatlah : tidak pernah terbersit dalam hati kita
untuk menjalani puasa dengan modus semacam itu. Subhanallah, inilah
training keikhlasan terbaik yang pernah kita dapati. Sebulan penuh
merasa di awasi dan beramal hanya karena Allah SWT. Mari kita sedikit
berangan, seandainya kaum muslimin di Indonesia bisa mengambil sedikit
saja oleh-oleh keikhlasan samacam ini untuk bulan-bulan selanjutnya,
bisa kita bayangkan angka kejahatan, korupsi dan sebagainya insya Allah
akan menurun drastis. Karena mereka semua merasa di awasi oleh Allah
SWT, lalu menjalankan ketaatan dengan ikhlas sebagaimana meninggalkan
kemaksiatan juga dengan ikhlas.
Kedua : Ramadhan untuk Training Keistiqomahan
Momentum Ramadhan yang penuh dengan berbagai amalan –dari pagi hingga malam hari- mau tidak mau, suka tidak suka, akan membuat seorang berlatih untuk istiqomah dalam hari-hari selanjutnya. Kita semua benar-benar menjadi orang yang sibuk dalam bulan Ramadhan. Bangun di awal hari untuk sholat malam dan sahur, kemudian siang hari yang dihiasi tilawah dan dakwah, belum lagi malam hari yang bercahayakan tarawih dan tadaruh. Semua kita lakukan dalam tempo sebulan penuh terus menerus. Sebuah kebiasaan tahunan yang nyaris tidak kita percaya bahwa kita bisa menjalaninya. Semangat beribadah kita benar-benar dipacu saat memulai Ramadhan. Bahkan Rasulullah SAW memberikan panduan agar melipatgandakan semangat saat akan melepas bulan mulia tersebut. Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim)
Momentum Ramadhan yang penuh dengan berbagai amalan –dari pagi hingga malam hari- mau tidak mau, suka tidak suka, akan membuat seorang berlatih untuk istiqomah dalam hari-hari selanjutnya. Kita semua benar-benar menjadi orang yang sibuk dalam bulan Ramadhan. Bangun di awal hari untuk sholat malam dan sahur, kemudian siang hari yang dihiasi tilawah dan dakwah, belum lagi malam hari yang bercahayakan tarawih dan tadaruh. Semua kita lakukan dalam tempo sebulan penuh terus menerus. Sebuah kebiasaan tahunan yang nyaris tidak kita percaya bahwa kita bisa menjalaninya. Semangat beribadah kita benar-benar dipacu saat memulai Ramadhan. Bahkan Rasulullah SAW memberikan panduan agar melipatgandakan semangat saat akan melepas bulan mulia tersebut. Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim)
Bila training keistiqomahan ini kita
resapi dengan baik, maka kita akan terbiasa beramal secara terus menerus
dan berkelanjutan dalam bulan yang lain. Segala halangan dan rintangan
akan teratasi dengan sempurna karena semangat istiqomah yang telah
tertempa dalam dada kita. Pada bulan berikutnya, saat lelah melanda, ada
baiknya kita mengingat kembali semangat kita yang menyala-nyala dalam
bulan Ramadhan. Untuk kemudian bangkit dan melanjutkan amal dengan penuh
semangat !
Ketiga : Ramadhan sebagai Training Ihsan
Syariat kita mengajarkan untuk optimal atau ihsan dalam setiap ibadah. Tak terkecuali dengan ibadah puasa Ramadhan. Setiap kita diminta untuk meniti hari-hari puasa dengan penuh ketelitian. Menjaganya dari segala onak yang justru akan memporakporandakan pahala puasa kita. Rasulullah SAW telah mengingatkan : ” Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang ” (HR Ibnu Majah)
Ini artinya, hari-hari puasa kita haruslah penuh kehati-hatian. Menjaga lisan, pandangan dan anggota badan lainnya dari kemaksiatan. Sungguh berat, tapi tiga puluh hari latihan seharusnya akan membuat kita melangkah lebih ringan dalam hal ihsan pada bulan-bulan selanjutnya. Bahkan semestinya, perilaku ihsan ini memang menjadi branding kaum muslimin dalam setiap amalnya.
Syariat kita mengajarkan untuk optimal atau ihsan dalam setiap ibadah. Tak terkecuali dengan ibadah puasa Ramadhan. Setiap kita diminta untuk meniti hari-hari puasa dengan penuh ketelitian. Menjaganya dari segala onak yang justru akan memporakporandakan pahala puasa kita. Rasulullah SAW telah mengingatkan : ” Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang ” (HR Ibnu Majah)
Ini artinya, hari-hari puasa kita haruslah penuh kehati-hatian. Menjaga lisan, pandangan dan anggota badan lainnya dari kemaksiatan. Sungguh berat, tapi tiga puluh hari latihan seharusnya akan membuat kita melangkah lebih ringan dalam hal ihsan pada bulan-bulan selanjutnya. Bahkan semestinya, perilaku ihsan ini memang menjadi branding kaum muslimin dalam setiap amalnya.
Terakhir, banyak hikmah lain yang
terserak sedemikian rupa dalam titian tiga puluh hari yang mulia ini.
Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengais hikmah-hikmah tersebut
dari hari ke hari Ramadhan kita, untuk kemudian menjadikannya sebagai
simpanan dalam menyambut bulan-bulan berikutnya. Mari memulai dari
keinginan tulus dalam hati untuk mensukseskan Ramadhan tahun ini. Lalu
diikuti dengan kesungguhan dalam mengisinya bahkan hingga saat hilal
Syawal menjelang. Agar kegembiraan yang dijanjikan bisa kita dapatkan.
Rasulullah SAW bersabda : ” Bagi orang yang berpuasa ada dua
kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan juga saat Idul
Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka ” ( Hadits Bukhori
& Muslim ). Wallahu a’lam bisshowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar